Kegelisahan awan menyambut datangnya kabut pekat berwarna hitam
Meneteskan titik air mata berasa asam
Hewan-hewan berlari mencari perlindungan
Melindungi kulit tubuh agar tidak gatal
Tetapi tanaman tidak bisa menghindar air mata sang awan
Walaupun dia harus menanggung perih tak terkira
Yang membuat daun dan buah berwarna coklat membercak seperti koreng
Dia berharap sang tanah mampu memulihkan sakit yang di derita
Maafkan aku ….tanah berkata pada sang tanaman
Bukan aku tidak mau menolongmu
Tetapi, teman-teman kecilku yang telah membantukupun mati
Terkubur bersama kesakitan, setelah itu mungkin aku akan mengikuti jejak itu
Berharaplah pada matahari, agar selalu bersinar terik
Hingga awan tidak meneteskan air mata
Maafkan aku…..Matahari berkata pada tanah dan tanaman
Bukannya aku tidak mampu menolongmu
Karena teriknya panas yang ku pancarkan, asap-asap itu naik dan senang bermain-main di awan
Padahal aku ingin asap itu tidak mendatangi awan
Mungkin kita bisa minta bantuan sang angin
Angin mendesah gelisah
Memandang sahabat alamnya bersedih
tetapi diapun tidak kuasa berbuat
Maaf, aku tidak bisa membantu kalian?!
Lalu tanaman, tanah, matahari dan angin merenung…..
Mengapa kita tidak bicara pada ibu kita sang bumi? Tanya tanaman tersenyum
Aku selalu melihat ibu kita dari tempat yang tinggi ini
Dia sedang sakit berat yang tak tertahankan, matahari berkata sedih
Sang ibu yang kena penyakit stroke, hanya bisa mendengar semua keluhan mereka
tanpa mampu begerak untuk menolong
Air mata kesedihan menetes….semakin deras..deras…banyak..banyak….lalu BANJIR!
Meneteskan titik air mata berasa asam
Hewan-hewan berlari mencari perlindungan
Melindungi kulit tubuh agar tidak gatal
Tetapi tanaman tidak bisa menghindar air mata sang awan
Walaupun dia harus menanggung perih tak terkira
Yang membuat daun dan buah berwarna coklat membercak seperti koreng
Dia berharap sang tanah mampu memulihkan sakit yang di derita
Maafkan aku ….tanah berkata pada sang tanaman
Bukan aku tidak mau menolongmu
Tetapi, teman-teman kecilku yang telah membantukupun mati
Terkubur bersama kesakitan, setelah itu mungkin aku akan mengikuti jejak itu
Berharaplah pada matahari, agar selalu bersinar terik
Hingga awan tidak meneteskan air mata
Maafkan aku…..Matahari berkata pada tanah dan tanaman
Bukannya aku tidak mampu menolongmu
Karena teriknya panas yang ku pancarkan, asap-asap itu naik dan senang bermain-main di awan
Padahal aku ingin asap itu tidak mendatangi awan
Mungkin kita bisa minta bantuan sang angin
Angin mendesah gelisah
Memandang sahabat alamnya bersedih
tetapi diapun tidak kuasa berbuat
Maaf, aku tidak bisa membantu kalian?!
Lalu tanaman, tanah, matahari dan angin merenung…..
Mengapa kita tidak bicara pada ibu kita sang bumi? Tanya tanaman tersenyum
Aku selalu melihat ibu kita dari tempat yang tinggi ini
Dia sedang sakit berat yang tak tertahankan, matahari berkata sedih
Sang ibu yang kena penyakit stroke, hanya bisa mendengar semua keluhan mereka
tanpa mampu begerak untuk menolong
Air mata kesedihan menetes….semakin deras..deras…banyak..banyak….lalu BANJIR!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar